Massive Star


PROFIL, Sebuah data singkat


Red Supergiant


TRIVIA, Yang diambil sepanjang jalan


Supernova


KISAH, Tentang dia yang mati dan meledak

Kenali Dirinya

Nama lengkapSambara Rajendra Orlen
Nama panggilanSambara, Sam
Tempat lahirDKI Jakarta
Tanggal lahir13 Maret
Usia22 tahun
Jenis kelaminPria
Golongan darahA+
PekerjaanMahasiswa, Staf kelab malam?
Orientasi seksualDemiseksual panromantik

Sambara merupakan seorang lelaki yang cenderung menyimpan segalanya dengan diri sendiri. Oleh sebab lingkungannya tumbuh dan besar, ia tidak terlalu akrab dengan proses mencari teman sebaya. Meskipun setelah beranjak dewasa ia bisa dan sanggup saja untuk mencoba memperluas lingkar pertemanan, Sambara terlanjur nyaman dengan kesendiriannya, dan mungkin, hanya beberapa teman dekat yang jumlahnya tak lebih dari hitungan jemari.Bukan berarti pula menarik diri otomatis sama dengan tak tahu adab diri. Senantiasa bertutur sopan, tak jarang Sambara sengaja memberi kesan jarak yang kentara dengan orang-orang yang ditemuinya. Gerak-geriknya pun halus dan penuh perhatian, meski membatasi kontak fisik terkhusus untuk segelintir orang yang dipercaya.Demikian, Sambara menyanggupi untuk memberi banyak toleransi dengan orang-orang terkasih. Ia akan lebih vokal mengenai cerita-cerita tentang dirinya, tutur kata yang sopan tak jarang terdengar menuntut — atau barangkali sekadar kelewat perhatian, dan lebih inisiatif soal menunjukkan afeksinya.Ketika menyelesaikan pekerjaannya, Sambara cenderung tegas dan fokus pada keberhasilan tugas. Berdarah dingin, tiada kenal ampun. Sebisa mungkin ia akan menghindari percakapan dengan pihak kompetitor, sebab koneksi yang terjalin pada lokasi pekerjaan menurutnya hanya akan membebani nuraninya sendiri.Sangat mungkin sifatnya yang hati-hati ini diperoleh dari pengalamannya menjalani pekerjaan rahasia — ia merupakan preman, bahkan pembunuh bayaran berkedok staf biasa di sebuah kelab malam di ibukota.

Kenali Dirinya

Warna mataBiru
Warna rambutPirang
Tinggi badan189 cm
Berat badan78 kg
Bentuk badanMesomorph
Tanda istimewaLuka bakar pada sebagian kiri tubuh dan wajah

Sedari kecil, Sambara sudah diduga dikaruniai fisik yang terbilang tinggi dan besar. Untuk takaran orang yang tidak mengerahkan terlalu banyak upaya untuk berolahraga secara rutin, tubuhnya memiliki massa otot yang cukup impresif meskipun jarang terlihat di balik lapisan pakaian yang dikenakan.Rambutnya pirang bergelombang natural, senantiasa disisir belah kanan agar dapat menutupi luka bakar yang menoreh sebagian kiri wajahnya. Bola matanya terbilang besar dan jernih, warnanya biru serupa kristal mulia, meskipun kini harus selalu menggunakan lensa kontak untuk mengatasi rabun jauh yang ia derita. Kedua ciri fisiknya ini tidak umum dimiliki oleh orang Indonesia, sebab merupakan turunan dari ibunya yang berdarah Prancis asli. Struktur wajahnya tegas namun juga awet muda di saat yang sama, karena lemak remaja yang masih ada di sana. Sambara tidak jarang dipuji tampan oleh orang yang ia jumpai, namun sikap dingin di luar serta luka bakar yang bertoreh pada wajahnya membuat kesan menakutkan dan mendominasi.Senang memakai pakaian semi formal, terutama berlapis-lapis kain yang menutupi hampir seluruh kulit tubuhnya. Paling suka mengenakan kemeja, rompi, dan jas; terkadang juga ditemani oleh dasi ataupun kravat. Paduan warna yang paling disuka adalah biru, putih, hitam, dan abu-abu. Di saat berpergian ke tempat ramai, Sambara juga tak jarang mengenakan sarung tangan kulit, tidak peduli betapa panas cuaca di luar. Alasannya sebatas karena suka, namun juga untuk menutupi luka bakar di tubuhnya.

Selami Dirinya

Extroverted22%78%Introverted
Intuitive61%39%Observant
Thinking66%34%Feeling
Judging46%54%Prospecting
Assertive22%88%Turbulent
  • Sudah 7 tahun belakangan ia berafiliasi dengan sebuah organisasi kriminal yang bermarkas di ibukota. Ketua organisasi tersebut merupakan pria pemantik api yang menemukan Sambara pada malam rumahnya ludes terbakar. Kontraknya dengan organisasi tersebut akan berakhir 3 tahun lagi.

  • Selama bekerja di organisasi yang markasnya berupa kelab malam itu, Sambara mengaku hanya bekerja mengurusi kucing peliharaan seorang bos. Padahal dia menjadi preman sekaligus pembunuh bayaran organisasi tersebut.

  • Memiliki ketakutan berlebih terhadap api, namun seringkali bermain dengan api.

  • Mendapatkan kemampuan bertarung melalui pelatihan yang diadakan oleh organisasi afiliasinya. Paling percaya diri dengan kemampuan boxing nya.

  • Lengkap memiliki SIM A, SIM BI, SIM BII, dan SIM C.

  • Sekarang sedang berkuliah di jurusan Ilmu Filsafat, tapi agak terbengkalai karena sibuk bekerja.

  • Tidak begitu suka bercakap-cakap dengan orang yang tidak akran dengannya, tapi suka berdebat dengan siapa saja.

  • Minuman kesukaannya adalah Amerikano, bukan karena suka rasanya, tapi butuh asupan kafein konstan.

  • Cukup familiar dengan tata krama formal, baik tradisional maupun tidak. Hal ini dilatar belakangi oleh garis keturunannya dan tuntutan pekerjaan (harus bisa membaurkan diri dalam segala situasi sosial).

  • TBA.

Pembunuhan Tiga Babak

BABAK PERTAMAPutra tunggal keluarga Orlen yang lahir pada pertengahan bulan Maret, 22 tahun silam. Keluarga Orlen tidak istimewa, kecuali, barangkali nominal angka yang tertera pada saldo bank mereka. Dahulu keluarga Orlen memiliki sebuah pabrik peleburan besi beton di sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta; bukan perusahaan yang paling besar meskipun pada zamannya, namun keuntungannya cukup meruah untuk memastikan kecukupan garis keturunan mereka.Sambara dan kedua orangtuanya tinggal di sebuah perumahan kecil di ibukota, tipe pemukiman di mana masing-masing warganya saling mengenal seluk-beluk dapur rumah tangga satu sama lain. Lantas cara Sambara dibesarkan kedua orangtuanya pun tidak jadi pengecualian, tetangga tahu anak lelaki itu kerap kali menerima kekerasan fisik dan mental di rumahnya.Setiap hari jeritan ibunda Sambara akan terdengar hingga rumah-rumah lainnya, memaki sang buah hati mengapa ia tidak mampu mengerjakan dokumen-dokumen perusahaan seperti yang sudah diajarkan guru privatnya. Tangis ampun Sambara tidak jadi pengecualian, anak yang usianya tak genap 10 tahun itu memohon maaf tak bisa memenuhi ekspektasi kedua orangtuanya. Setiap ayahanda pulang dari perjalanan bisnisnya, suara pukulan antara tongkat besi dan kulit anak manusia akan terdengar, sebuah rauman frustasi orangtua yang terbelit keinginan agar anak mereka cepat-cepat pintar seperti orang dewasa, supaya bisa merebut sedikit lebih banyak bagian saham perusahaan keluarga besar mereka.Sambara tidak paham mengapa ini terjadi kepadanya, sebab teman-teman sepermainannya tak ada yang lebam sampai retak tulang dipukuli orangtua mereka. Anak lelaki itu hanya bisa menangisi luka yang dirasa, tetes airmata membasahi masing-masing halaman buku pelajaran yang harus ia baca supaya malam ini lukanya tidak bertambah.BABAK KEDUASampai suatu sore menjelang malam, di perjalanan pulang dari kegiatan ekstra kurikuler ketika Sambara kelas 9 SMP, di gerbang masuk perumahan ia bertemu seorang pria yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Menoleh ke kiri dan kanan, Sambara bisa melihat para satpam bercengkrama selayaknya tak terjadi apa-apa, lantas sang anak lelaki memutuskan, barangkali pria ini seorang kerabat dari salah satu tetangga.Ketika melewati pria tersebut, Sambara menyapanya, dan hendak berlalu ingin cepat-cepat pulang, ketika pria tersebut memberi aba-aba agar ia hentikan langkahnya. Tiada basa-basi, ia tanyakan pada anak yang tak lebih dari usia 15 tahun itu, Kapan kau habisi iblis-iblis itu? Sampai kapan kau terima perlakuan mereka? Habisi mereka. Habisi, habisi, habisi.BABAK KETIGAMalam itu rumah keluarga kecil Orlen habis dilalap api. Tubuh ketiga anggota keluarga ditemukan dengan luka berat di sekujur badan, seperti sesaat menjelang ajal mereka terlibat sebuah perkelahian hebat. Kobaran api yang melalap seluruh bangunan rumah dan hampir menghanguskan jasad mereka diduga sebuah kejadian yang disengaja, karena terdapat sisa-sisa bensin serta alkohol di seluruh tempat kejadian perkara.Kepolisian yang bekerja sama dengan seluruh saksi setempat mengaku bingung menyimpulkan latar belakang insiden ini. Tidak ada yang mengaku melihat orang asing di sekitar rumah keluarga malang tersebut. Hanya sebuah hari yang biasa, anak semata wayang mereka pulang sekolah tak lama sebelum ayahnya, meskipun terdengar sedikit keributan namun tetangga mengaku hal itu sudah biasa, tidak ada yang janggal sama sekali. Namun utamanya karena itulah, para tetangga curiga, barangkali kepala keluarga Orlen akhirnya kehilangan akal sehat dan membunuh seluruh keluarganya sendiri, sebelum akhirnya memilih untuk bunuh diri dengan membakar rumah mereka.Ketiga jasad pun dibawa pihak berwajib untuk dilakukan autopsi lebih lanjut. Namun hal diluar akal sehat lainnya kembali terjadi, jasad ketiga yang merupakan anak tunggal keluarga Orlen hilang tanpa jejak pada malam hari setelah tiba di rumah sakit. Sebuah pencarian lokal di wilayah kecamatan rumah sakit tempat jasad itu hilang dilakukan oleh pihak berwajib, namun hasilnya nihil. Meskipun penyebab dan waktu kematian suami istri keluarga Orlen berhasil diketahui, nasib pelaku serta jasad anak mereka tidak pernah diketahui.Sekarang, penulis akan memberitahumu sebuah rahasia.
Rahasia yang bahkan sudah sepenuhnya sirna dari ingatan Sambara.
Malam itu, Sambara akhirnya menghentikan kekerasan yang orangtuanya perlakukan kepada dirinya yang malang. Anak lelaki itu, telah beranjak remaja dan memiliki cukup tenaga, berhasil merebut pipa besi yang senantiasa ayahnya gunakan untuk menganiaya. Sambara lepas kendali, tepat setelah ayahnya memberikan pukulan pertama di tempurung kepalanya, yang bisa ia lihat hanyalah merah. Darah, darah, dan lebih banyak darah. Kedua orangtuanya sudah bersimbah darah, tidak bernyawa. Di tangannya ada senjata yang biasa menyakitinya, kini merenggut nyawa sepasang manusia keparat itu — Sambara membunuh kedua orangtuanya.Sambara hanya bisa melihat darah di sekelilingnya. Substansi merah kental itu memblokir semuanya, kecuali satu bayangan, di kejauhan. Pria yang ia temui pada perjalanan pulang. Pria itu berdiri diam di balik bayang-bayang sebuah gang tak jauh dari rumahnya, seharusnya Sambara tak bisa melihat sosok itu, jikalau saja pria itu tidak memantik api untuk rokoknya. Dan apilah yang Sambara gunakan untuk melahap, membakar dan mematikan dirinya yang kini tak lebih dari sekadar anak yang sudah membunuh kedua orangtua.Sambara siap mati, meledak di saat hidupnya sedang mencapai puncak yang paling cerah: ketika ia bebas dari kekerasan orangtuanya. Namun, sayang seribu sayang, ketika kembali tersadar, Sambara tidak berada di surga ataupun neraka. Kepalanya kosong, tanpa ingatan. Sambara mengalami amnesia. Dan coba tebak, siapa orang yang menyambutnya? Pria pemantik api itu.

Nirleka

Selang 7 tahun semenjak misteri tewasnya keluarga Orlen, kini waktu mencapai masa sekarang, saat ini, hari-hari ini. Sambara sudah berusia 22 tahun dan ia hidup sehat bugar, berkuliah meskipun keteteran, memiliki sebuah apartemen, kendaraan pribadi, serta gaji yang lebih dari mencukupinya. Sekilas, orang akan menduga Syukurlah, setidaknya dia tumbuh dewasa dengan baik.Yang orang tidak sadari, mungkin pula tidak Sambara sadari juga, ialah dirinya telah dipekerjakan sedari usia dini oleh orang yang tidak lain adalah pria yang memanipulasinya untuk membunuh kedua orangtua sendiri. Tujuh tahun lalu, saat pertama kali membuka mata setelah diasumsikan mati, Sambara diasuh dan dibesarkan dalam organisasi kepemilikan pria itu. Sambara diajari cara membela diri, cara menyakiti, cara membunuh. Anak yang membunuh kedua orangtuanya itu diambil dan dijadikan pembunuh bayaran sejak usianya tak genap 17 tahun.Sambara tahu soal insiden malam itu. Kurang lebih tahu.Setahunya, pria itu mengetahui seluruh detail insiden malam itu. Dan semenjak itu pula hidupnya dijadikan jaminan, alat untuk balas budi, karena sudah diselamatkan dan disembunyikan. Katanya, Mengabdilah padaku selama 10 tahun, dan akan kulepaskan kau untuk menikmati hidupmu sebebas-bebasnya.Jadi, tersisa hanya 3 tahun lagi. Sambara hanya perlu membunuh, membunuh, dan membunuh selama 3 tahun lagi saja. Setelah itu, akhirnya, ia akan cicipi kemerdekaan sepenuhnya, dan mungkin menuliskan jalan hidup sesuai kemauannya. Ketika saat itu tiba, ia takkan lagi NIRLEKA.